Dua Jenis Founder Startup Yang Wajib Kamu Ketahui

Salah satu tokoh startup yang sering saya dengar ceramah dan baca tulisannya adalah Steve Blank. Buat anak startup, pasti sudah gak asing tapi buat yang belum tau, saya jelaskan sedikit. Sisanya kamu bisa googling sendiri.

Steve Blank adalah seorang entrepreneur sekaligus akademisi di Universitas Standford. Ia adalah pioneer dalam metodologi startup yang mengenalkan Costumer Development. Berkat metodologinya, kini seorang founder bisa membangun startupnya dengan lebih baik.Setelah itu muncur ilmuwan lain seperti Eric Ries dan Ash Maurya. Eric Ries yang memadukan agile engineering dan lean dalam membangun startup, sehingga muncul metodologi Lean Startup. Kemudian Ash Maurya mensintesiskan Costumer Development, Lean Startup dan Bisnis Model Canvas Alexander Osterwalder menjadi sebuah metodologi mutakhir : Lean canvas, lean scaling, lean sprint dan sebagainya.

Karya-karya mereka bisa dipilih salah satu atau memadukannya di startup yang kamu bangun. Kami pun begitu di pedihelp, kami pelajari dan terus mencari sintesa yang pas agar website pencarian tukang yang berbasis di Purwokerto ini bisa tetap tumbuh.

Nah, Kali ini saya mau membagikan pikiran Steve Blank tentang dua jenis founder: winner founder dan loser founder. Suatu pengetahuan penting, khususnya buat founder pemula yang belum berpengalaman seperti saya.

Oke, kita mulai.

Winner Founder

Di masa-masa awal pendirian, segala sesuatu di startup masih belum diketahui, entah itu bisnis modelnya atau costumernya. Maka mindset seorang founder adalah bagaimana melakukan pencarian terlebih dahulu dengan menyusun hipotesis untuk kemudian divalidasi.

Sebentar. Kalau istilah hipotesis dan validasi terkesan terlalu ilmiah, jadi mirip kaya garap skripsi, saya sederhanakan saja. Hipotesis itu sama kaya mengira-ngira, validasi itu artinya ngetest. Nguji tebakanmu itu benar apa salah.

Seorang founder harus mencari bisnis model dilipatkangandakan, alias scalable. Bikin marketplace pencarian tukang seperti pedihelp itu gagasan bagus, tapi bisnis modelnya bisa di cloning di berbagai kota apa tidak?

Jika ternyata bisa, alhamdulilah. Jika ternyata belum ya terus mencari sampai ketemu. Terus begitu, sampai ketemu model bisnis yang scalable dan tentu saja menguntungkan. Jika sudah ketemu, maka tahap selanjutnya menyusun rencana eksekusi dan berinvetasi waktu, tenaga dan juga uang dalam jumlah sesuai yang dibutuhkan.

Loser Founder

Loser founder berpikir ia sedang berada di sebuah perusahaan yang sudah mapan. Bisnis plan dianggap fakta, bukan asumsi. Lalu menyiapkan rencana eksekusi dengan investasi besar. Dan, yang namanya asumsi banyak salahnya daripada benarnya.

Yang membedakan founder startup dan yang bukan adalah kamu hanya hanya bersedia menginvestasikan waktu, energi, dan biaya pada fakta. Bukan asumsi.

Kalau kata Steve Blank, founder semacam ini karena mereka ingin cepet-cepetan. Cepet jadi perusahaan besar. Go big fast. Mereka pengennya langsung melejit, langsung tenar, dan langsung ekspansi seperti gojek atau Tokopedia.

Ya maklum. Karena orang hanya melihat Gojek dan Tokopedia saat mereka mulai meroket sekitar tahun 2015-an. Tapi tidak melihat apa yang dilakukan William Tanuwijaya di 2009 dan Nadiem Makariem di tahun 2011. Saat keduanya sama-sama baru memulai.

Oleh: Aef Nandi S

Diambil dari: medium

Marfa U

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X